Excursion Study 2016: “Taking a Leap into the S(e)oul of Asia’s Rising Tiger”

Studi ekskursi merupakan bagian dari program kerja Divisi Eksternal Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) UNPAR. Program ini rutin dilakukan setiap tahunnya dan dilaksanakan pada pertengahan tahun di akhir semester genap, pada umumnya pada awal bulan Juni. Studi ekskursi bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman dan pembelajaran singkat secara langsung mengenai topik yang diambil terkait negara yang dituju. Diharapkan pula, kunjungan-kunjungan tersebut dapat membuka koneksi da
n mempererat kerjasama antara Prodi HI UNPAR dengan universitas dan institusi yang dikunjungi. Pada tahun ini, studi ekskursi berlangsung mulai 5-14 Juni 2016 dengan tujuan Korea Selatan. Mengambil tema, “The Soft Power of South Korea in International Area”, studi ekskursi ini diikuti oleh 39 mahasiswa dari berbagai angkatan (2013, 2014, dan 2015), serta didampingi oleh Albert Triwibowo, dosen Prodi HI UNPAR. Kunjungan resmi pertama dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2016, yaitu kunjungan ke UNESCO Asia Pacific Centre for International Understanding (UNESCO APCEIU), lalu dilanjutkan ke University of Seoul. Di UNESCO APCEIU, peserta studi ekskursi memperoleh pengetahuan akan pentingnya pendidikan untuk menciptakan perdamaian dunia, terutama yang berkaitan dengan international understanding bagi masyarakat dunia atau global citizens. Berbeda dengan kunjungan pertama, pada kunjungan kedua, dua perwakilan mahasiswa dari HI UNPAR, yaitu Inigo Abigail (201333000
2) dan Annisa Laksmintari (2014330131) mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan presentasi mereka yang berjudul “Indonesia’s Soft Power”.

Pada hari berikutnya, para peserta studi ekskursi mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang berlokasi di Seoul dan Sejong Institute, yaitu sebuah organisasi think tank yang banyak mengonsentrasikan pembahasan mengenai hubungan Korea Utara dan Korea Selatan. Di KBRI, para peserta diberikan materi terkait hubungan antara Indonesia dengan Korea Selatan, khususnya mengenai penggunaan soft power oleh pemerintah Korea Selatan dan Indonesia. Sementara itu, dalam kunjungannya ke Sejong Institute, peserta mendengarkan presentasi dari Kie-Duck Park, Ph.D mengenai perkembangan soft power diplomacy Korea saat ini melalui perspektif demokrasi. Selanjutnya, kunjungan resmi terakhir dilakukan pada tanggal 9 Juni 2016, yaitu ke Ewha Womans University dan ASEAN-Korea Centre. Di Ewha, peserta mendapatkan materi mengenai niche diplomacy yang disampaikan oleh seorang profesor dan dekan Graduate School of International Studies bernama Profesor Brendan Howe. Salah sa
tu poin utama dari penjelasan yang diberikan oleh beliau ialah bagaimana pemerintah Korea Selatan telah memproyeksikan dan memfokuskan bidang spesifik terkait soft power yang ingin dimaksimalkan oleh negaranya. Kemudian, peserta berkunjung ke ASEAN-Korea Centre dan disana mereka membahas mengenai hubungan dan kerjasama antara Korea Selatan dan negara-negara di ASEAN.

Hari-hari lainnya, para peserta diajak berkunjung ke berbagai objek wisata dan museum di Korea Selatan, seperti Gyeongbok Palace, National Folklore Museum, National Museum of Korea, N-Seoul Tower, Namsangol Hanok Village, Nami Island, Mount Sorak, Petite France, Myeongdong Street, Hongdae Street, Dongdaemun Street, dan yang paling ditunggu-tunggu yaitu kunjungan ke Korea De-Militarized Zone (DMZ) yaitu daerah perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Di DMZ, peserta diajak menyusuri terowongan bawah tanah yang dibangun oleh Korea Utara menuju Blue House (istana presiden) di Seoul yang ditujukan untuk menginvasi dan menyerang Korea Selatan.