Socratime: Secularism Dilema-The Problem with Religious Symbol

Dalam beberapa bulan terakhir, media internasional dan nasional dipenuhi oleh pemberitaan mengenai pelarangan burkini di Perancis sehingga memunculkan pro kontra di tengah masyarakat. Kasus ini bermula pada tanggal 28 Juli, di Cannes, tepatnya di pantai French Riviera dimana terdapat beberapa polisi yang melarang beberapa wanita yang mengenakan burkini (burqa bikini), pakaian renang yang didesain khusus untuk wanita berhijab. Beberapa wanita diminta untuk melepaskan burkini karena dianggap melecehkan nilai-nilai sekulerisme yang dipegang kuat oleh Perancis. Menindaklanjuti peristiwa tersebut, walikota Cannes akhirnya mengeluarkan aturan yang melarang penggunaan burkini. Peraturan inipun sudah diterapkan di beberapa kota di Perancis.

Kasus ini pula yang menjadi topik utama Socratime yang diadakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional pada 21 September 2016. Bertempat di Taman FISIP, mahasiswa yang hadir terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendukung keputusan Prancis untuk menerapkan larangan penggunaan burkini demi menjaga nilai-nilai sekularisme. Kelompok kedua berpendapat bahwa pelarangan penggunaan burkini ini semata-mata karena sentimen buruk Perancis terhadap penganut agama Islam. Pelarangan ini dianggap tidak tepat karena justru menyalahi nilai-nilai sekulerisme yang telah dianut Perancis.

Diskusi pun menjadi semakin menarik ketika masing-masing kelompok mulai memaparkan berbagai fakta yang dapat digunakan untuk mendukung pendapatnya. Pada penghujung Socratime, diskusi terfokus pada definisi sekulerisme itu sendiri dan bagaimana konsep sekulerisme yang tepat. Pada umumnya, peserta mendefinisikan sekulerisme sebagai pemisahan antara politik dan agama, dimana urusan agama hanya diatur oleh pemuka agama masing – masing, dan pemerintah hanya mengatur mekanisme dari praktik agama. Sekulerisme yang menegasikan agama seharusnya semakin menegaskan bahwa isu personal seperti penggunaan burkini di pantai tidak boleh mendapat campur tangan pemerintah.

Dari Socratime kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa pelarangan suatu simbol agama seharusnya tidak mengancam sekulerisme. Ada hal yang seharsnya perlu lebih diperhatikan seperti pemahaman mengenai sekulerisme itu sendiri, hak asasi manusia dan freedom of speech.(KSMPMI).