Conference on Indonesian Foreign Policy 2016: Universitas Katolik Parahyangan Session

Conference on Indonesian Foreign Policy atau disebut dengan CIFP merupakan sebuah forum besar yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan membahas mengenai hubungan Indonesia dengan dunia internasional dalam berbagai aspek seperti politik, keamanan, ekonomi, budaya, lingkungan, perkembangan teknologi, dan lain-lain. Tahun 2016 merupakan kedua kalinya CIFP dilaksanakan, setelah sebelumnya CIFP 2015 telah diselenggarakan dengan sukses sebagai konferensi terbesar pertama mengenai pembahasan politik luar negeri dan hubungan Indonesia di dunia internasional bertempat di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta. Mengikuti kesuksesan pada tahun 2015, CIFP 2016 diselenggarakan secara masif bertempat  di The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta pada 17 September 2016, mempertemukan Pejabat, Duta Besar, Diplomat, Politisi, Selebriti, Pengusaha, Public Figures, Intelijen, Pakar, Wartawan, Dosen, Pengamat serta Mahasiswa. Pada CIFP 2016 ini, Universitas Katolik Parahyangan berkesempatan diundang menjadi pengisi dalam satu sesi CIFP dengan tema bahasan yaitu Indonesia as a Maritime Fulcrum: The Score Card 2 Years Later.

Universitas Katolik Parahyangan diwakili oleh Sylvia Yazid, Ph.D selaku Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan, mengisi Parallel Session A1 dengan tema bahasan Indonesia as a Maritime Fulcrum: The Score Card 2 Years Later bertempat di Main Hall Kota Kasablanka yang memiliki kapasitas hingga 1000 kursi, menjadikannya tempat terbesar untuk menyelenggarakan sesi dalam forum CIFP 2016. Sylvia Yazid, Ph.D mengisi Parallel Session A1 sebagai moderator mewakili Universitas Katolik Parahyangan untuk memandu jalannya perbincangan dan diskusi dari tokoh-tokoh penting dalam membahas Poros Maritim Indonesia. Tokoh-tokoh yang menjadi pembicara dalam membahas Poros Maritim Indonesia di sesi Universitas Katolik Parahyangan ini antara lain adalah Tim Huxley (IISS Singapore), Prof. Hasjim Djalal, Laksamana Muda TNI I Gede Nyoman N. Ary Atmaja, Ambassador Arif Havas Oergoseno, dan Evan Laksmana (CSIS).

Dalam sesi Indonesia as a Maritime Fulcrum: The Score Card 2 Years Later, para narasumber berfokus dalam memberikan pandangan dan komentar mengenai ambisi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Para pembicara mengatakan bahwa dalam membangun Poros Maritim diperlukan upaya dari berbagai pihak terkait sehingga potensi dan peluang Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan lautnya dapat terlaksana secara optimal. Dalam hal ini, kekuatan pertahanan maritim Indonesia perlu dibangun sedemikian rupa sehingga kedaulatan Indonesia dalam menjalankan visi maritimnya dapat terus berlangsung dan menimbulkan dampak bagi Indonesia dan juga pengaruh bagi kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, koordinasi dengan pihak eksternal dan internal Indonesia harus dilakukan secara berkesinambungan mengingat wilayah kelautan Indonesia yang dapat menimbulkan potensi kerjasama hingga konflik. Salah satu koordinasi yang harus dilakukan secara berkesinambungan adalah dengan kementerian terkait seperti Kemenkopolhukam serta kementerian pertahanan sehingga kebijakan yang disusun dapat bersinergi dengan kebutuhan Indonesia dalam membangun ambisinya sebagai Poros Maritim Dunia. Wilayah kelautan Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga seperti dengan Filipina, Malaysia, Singapura, Australia, dan lain-lain harus dikoordinasikan dan sering diadakan kerjasama demi terciptanya perdamaian dan keamanan di wilayah laut.