SOCRATIME Special Edition: US Election Explained

Amerika Serikat akan segera memilih pemimpin barunya pada 8 November 2016. Seluruh dunia sama-sama menunggu, siapakah yang layak untuk menjadi pemimpin negara adidaya tersebut. Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI) Hubungan Internasional UNPAR pun ikut membahas peristiwa tersebut dengan mengadakan SOCRATIME SPECIAL EDITION pada 1 November 2016, dengan menghadirkan Aaron Jensen, Deputy Counselor for External Affairs dari US EMBASSY untuk menjelaskan sistem dan proses pemilihan umum di AS.

Pemilu di Amerika Serikat terdiri dari dua kandidat presiden yang berasal dari dua partai berbeda. Partai Demokrat dengan mencalonkan istri dari presiden AS ke-42, yaitu Hillary Clinton dengan wakilnya Tim Kaine. Rival terberatnya, yaitu dari Partai Republik, Donald Trump dan Mike Pence. Sebelumnya, terdapat beberapa pasang kandidat dari independen maupun partai yang juga mencalonkan diri sebagai presiden, misalnya Jill Stein dari Green Party, Gary Johnson dari Libertarian Party, dan Tom Hoefling dari American Independent Party. Namun fakta dan data di lapangan memperlihatkan bahwa kecil kemungkinan mereka akan menang melawan kandidat yang dicalonkan oleh dua partai terbesar sepanjang sejarah politik Amerika Serikat.

Seleksi awal dilakukan oleh masing-masing partai untuk menentukan siapa kandidat terkuat yang akan mereka calonkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Setelah itu, kedua partai diberikan waktu untuk berkampanye dan berusaha mencuri dukungan masyarakat. Saat mendekati hari pemungutan suara, akan dilakukan debat antara perwakilan kandidat dari masing-masing partai. Pemungutan suara (voting) dilakukan dengan sistem  Electoral System, dimana kandidat presiden dipilih melalui dua jenis votes, yaitu popular votes & electoral votes. Popular votes merupakan votes yang diperoleh dari para pendukungnya. Sementara electoral votes merupakan votes yang dilakukan oleh electors/United States Electoral College System. Hasil pemungutan suara dari popular votes akan menentukan pilihan kandidat yang akan dipilih oleh para electors sehingga apabila suatu kandidat memenangkan suara mayoritas dari popular voters, belum tentu memenangkan pemilu. (KSMPMI)