Magang di KBRI ala Diplomat

Hubungan Internasional (HI) kerap identik dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), diplomat, politik, dan bertandang ke luar negeri. Karena lingkup pengetahuannya terbilang luas, sejumlah mahasiswa HI kerap menjadi jurnalis, pengusaha, pekerja lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lainnya. Namun, impian mahasiswa HI yang paling umum adalah menjadi duta besar atau diplomat. Dua mahasiswa HI Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) berkesempatan untuk magang di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rumania.

Farizi Fatwa dan Erlangga Prawibowo bertolak ke Bukares pada pertengahan Desember 2016 lalu. Kedua mahasiswa angkatan 2013 itu menghabiskan waktu magang selama satu bulan penuh sampai dengan 19 Januari 2017.

Farizi yang akrab disapa Wawa mengungkapkan, rencana magang di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) adalah reaksi spontan. Ia dan Angga, sapaan Erlangga, ingin menggunakan masa-masa kuliah dengan sesuatu yang berbeda, berguna, dan bisa membagi cerita kepada teman dan anak-cucu kelak.

Melihat sepak terjang teman-temannya terdahulu yang berhasil ke luar negeri melalui berbagai ajang bergengsi, mereka tidak ingin ketinggalan. Keduanya sekadar mencoba mengajukan magang ke belasan KBRI di Asia dan Eropa. “Pertama, kita téh (mengajukan) ke 15 negara karena kita terlalu bersemangat dan yang balasnya téh ada lima negara, India, Laos, Rumania, Myanmar, dan Vietnam. Tapi, Vietnam mah enggak bisa. Mayoritas apply ke Eropa, seperti Portugal, Rumania, Ceko, dan Bulgaria,” ujar Angga bersemangat.

Orang tua keduanya pun mendukung pilihan untuk magang di luar negeri. Bahkan, mendorong Angga dan Wawa untuk mengambil negara terjauh di antara keempat negara itu. Maka, keduanya memilih KBRI Rumania.

KBRI Rumania menempatkan Angga di bagian penerangan, sosial, dan budaya (pensosbud). Salah satu pekerjaan yang diemban Angga adalah membuat materi beasiswa untuk warga negara Rumania yang berminat kuliah di Indonesia dan sebaliknya. Adapun, KBRI selalu memanggil warga negara Indonesia (WNI) di Rumania untuk berkumpul dan membuat kegiatan setiap pergantian tahun. “(Saya) beneran jadi panitia untuk melaksanakan (kegiatan) itu, mulai dari persiapan sampai penyusunan acara. Pertama kalinya, ilmu kepanitiaan dari kampus terpakai pisan, seperti dekorasi, logistik, dan acara,” kata Angga sambil tertawa bangga.

Menurut Angga, Kemenlu sedang menyusun fitur baru untuk WNI yang berencana bepergian ke luar negeri, seperti panduan perjalanan. Angga memasukkan data-data tempat wisata Rumania, termasuk deskripsi dan tingkat keamanannya.

Lain halnya dengan Wawa, ia ditempatkan di bagian ekonomi yang disebut-sebut KBRI sebagai organ paling vital. Sebab, Presiden Jokowi sedang gencar berinvestasi di luar negeri dan mencari investor asing untuk ke Indonesia. Wawa mengatakan, KBRI Rumania merangkap Moldova sehingga pekerjaan yang diemban adalah mencari data potensi investasi kedua negara.

Berdasarkan hasil penelitiannya, permesinan Rumania merupakan keunggulan negara. Sedangkan, Moldova yang notabene negara kurang berkembang, kaya akan biji bunga matahari. Maka, Wawa membuat blueprint untuk Kemenlu di Jakarta mengenai kemungkinan Indonesia berinvestasi di Rumania dan Moldova.

Wawa menyebutkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya dan Angga cukup variatif. Salah satu pekerjaan lain yang ditugaskan adalah membantu pengurusan anggota dan persiapan AIESEC karena proyek yang tersebar di berbagai kota, seperti Cluj-Napoca, Brașov, dan Pitești.

Menurut Angga, bekerja di KBRI akan dihadapkan dengan lebih dari sekadar teori yang dipelajari. Banyak hal lain yang bisa didapatkan apabila dicoba. Mengamini hal yang serupa, Wawa menambahkan, bekerja di KBRI harus multi-tasking dan punya jiwa melayani. Sebab, diplomat adalah pelayan masyarakat Indonesia (masindo).

Menjadi Diplomat?

Ekspektasi Wawa dan Angga mengenai pekerjaan diplomat bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Sebab, tanggung jawab diplomat yang diemban sangat besar. Seorang diplomat, kata Wawa, harus memiliki jiwa melayani dan mengabdi kepada negara.

Misalnya, apabila terjadi hal-hal darurat terhadap WNI, KBRI harus menjadi instansi pertama yang mengetahui. Bila memungkinkan, bahkan sebelum ada berita di media. Maka, setiap WNI yang akan bepergian ke luar negeri wajib lapor ke KBRI negara tujuan sehingga keberadaannya mudah dilacak. Melihat hal itu, Angga mengungkapkan, “Kita enggak bisa hanya kerja dari pagi sampai sore, tetapi kerja 24 jam melayani masyarakat.”

Angga menambahkan, pernyataan yang dikemukakan seorang diplomat akan selalu membawa nama Indonesia karena diplomat merepresentasikan negaranya. “Jadi, kalau kita salah ngomong, satu Indonesia yang kena (akibatnya),” ujarnya. Maka, kemampuan berdiplomasi dibutuhkan dalam ranah pekerjaan ini.

Meskipun seorang diplomat merupakan pegawai negeri sipil (PNS), tetapi menurut Wawa, hidup menjadi diplomat lebih berwarna. Sebab, memiliki kesempatan untuk berkeliling dunia dan bertemu dengan berbagai macam orang dari beragam latar belakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X