HI Unpar Terima Kunjungan dari UPH dan Univ. Lambung Mangkurat

Perkembangan akan terus terjadi di setiap tahunnya. Institusi pendidikan pun menjadi sorotan karena ikut terkena arus pembangunan dan perubahan. Kebutuhan akan mendapat ilmu pengetahuan menjadi hal penting bagi setiap elemen di masyarakat.

Di awal tahun 2018, Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HI Unpar) berkesempatan menerima kunjungan beberapa tamu yang berasal dari institusi pendidikan untuk melakukan studi banding. Tidak hanya dari pulau Jawa, bahkan hingga dari pulau seberang, Kalimantan. HI Unpar menerima kunjungan dari Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (HMPS HI UPH), Tangerang.

Kunjungan Universitas Lambung Mangkurat

Pada Kamis (25/1) lalu, Universitas Lambung Mangkurat melakukan kunjungan dalam rangka studi banding pendirian prodi HI di universitas tersebut. Kehadiran para tamu disambut oleh Ketua Prodi HI Unpar, Sylvia Yazid, Ph.D, dan beberapa dosen-dosen.

Ide dibangunnya prodi HI di Kalimantan dilihat dari pentingnya sebuah hubungan internasional di lingkup lokal. Melihat kebijakan dari pemerintahan lokal di sana, aspek turisme sedang dikembangkan, oleh sebab itu awalnya dihubungkan dengan pembangunan pada aspek tersebut.

Dalam kunjungan tersebut, tim HI Unpar membagikan cerita, mulai dari awal mula dibangunnya HI Unpar, ragam mata kuliah, aktivitas perkuliahan dosen maupun mahasiswa, hingga terkait regulasi pada saat awal pembangunan Prodi HI.

Awal didirikan

Dr. Atom Ginting Munthe yang merupakan salah satu dosen senior yang mengetahui pembangunan HI Unpar bercerita sedikit mengenai awal didirikannya HI unpar. Mulanya berasal dari ketatanegaraan, yang membedakannya adalah dengan menambah unsur internasional dalam pemahaman organisasi, hukum, dan administrasi. Sebelumnya, para pengajar berasal dari beberapa pegawai pemerintahan ex Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Namun seiring waktu, banyak kerabat, teman maupun alumni (murid yang telah lulus dari HI Unpar) menjadi tenaga pengajar di HI Unpar hingga saat ini. Salah satunya, yaitu Prof. V. Bob Sugeng Hadiwinata Ph.D guru besar HI Unpar yang juga merupakan ketua Parahyangan Centre for European Studies (PACES).

Selanjutnya, HI Unpar juga memiliki pusat studi mengenai isu-isu hubungan internasional yaitu Parahyangan Centre for International Studies (PACIS). Elisabeth A.S. Dewi Ph.D dosen HI Unpar, menjabat sebagai ketua PACIS. Selain membahas mengenai isu-isu internasional, PACIS juga berfokus pada penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. PACIS menjadi jembatan bagi para dosen, instansi-instansi, maupun lembaga eksternal. Saat ini, proyek bersama yang sedang dikerjakan bersama Kemenlu adalah mengenai bagaimana Indonesia menjadi bagian dari keanggotaan DK PBB.

Berbagi cerita: Unpar & UPH

Seminggu berikutnya, pada Selasa (30/1), Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (HMPSIHI Unpar) menerima kunjungan HMPS HI UPH di ruangan Mgr. Arntz-Geise FISIP Unpar. Pada kunjungan tersebut, keduanya saling berbagi pengalaman dan cerita mengenai program kerja dan aspek fungsional himpunan mahasiswa.

Dr. Aknolt Kristian Pakpahan, S.IP., MA Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP Unpar menyambut kehadiran teman-teman mahasiswa dari UPH. Rangkaian acara yang berlangsung kurang lebih dua jam ini diawali dengan sharing program kerja dan fungsional diantara kedua himpunan serta pemaparan dari setiap divisi yang ada, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Mata acara berikutnya, yaitu campus tour yang terbagi ke dalam tiga kelompok kecil dengan masing-masing pendamping di setiap kelompoknya.

Ada banyak cerita baru dan seru yang didapatkan kedua himpunan mahasiswa. Mulai dari tugas-tugas dari setiap divisi, penyelenggaraan acara-acara oleh himpunan mahasiswa, foreign exposure, hingga seputar Model United Nations yang mana HI Unpar mendapatkan penghargaan sebagai Top Position Paper dan Best Delegation di Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (PNMHII), pada November 2017 lalu.