Teknologi Informasi dan Diplomasi “Zaman Now”

Pada (12/3) lalu, Dr. Sukawarsini Djelantik beserta tim mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo, Republik Arab Mesir.  Dr. Djelantik adalah staf pengajar pada program studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dengan berbagai penelitian yang terfokus pada bidang diplomasi. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan presentasi bertema “Diplomasi Pada Era Informasi”, yang mana dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzi, jajaran diplomat, dan staf KBRI. Presentasi dilanjutkan dengan diskusi yang sangat dinamis, mengingat isu yang dibahas sangat relevan dengan tugas-tugas perwakilan negara.

Dalam paparannya, diplomasi pada era globalisasi mengalami perubahan yang sangat signifikan sebagai akibat dari berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ciri utama era ini adalah komunikasi instan dan munculnya masyarakat jaringan (network society). Teknologi berbasis komputer ini memungkinkan setiap orang berbagi informasi, gambar, serta data secara real time.  Masyarakat dunia yang tidak lagi terkotak-kotak dalam batas-batas politis dan ideologi yang kaku seperti pada era Perang Dingin, dapat saling berkomunikasi secara langsung tanpa hambatan.

Pola-pola komunikasi ini didukung oleh media baru seperti facebook, twitter, instagram, youtube, path, WA, Line, dll. Perubahan ini memungkinkan setiap orang, termasuk para kepala negara dapat saling berkomunikasi secara langsung, tanpa melalui Duta Besar atau diplomat sebagai wakil negara di luar negeri. Fungsi-fungsi  negosiasi, informasi, dan pelayanan terhadap warga negara (seperti pengurusan visa, dan lainnya) dapat dilakukan secara daring sehingga memunculkan istilah “diplomasi virtual”. Hal tersebut berimplikasi terhadap berkurangnya peran Duta Besar dan diplomat sebagai representasi negara. Perubahan ini akan mengarah pada penghapusan Kedutaan Besar karena fungsi-fungsi diplomasi dapat diwakilkan melalui “Virtual Embassy”.   

Beliau menambahkan bahwa perubahan juga terjadi pada isu-isu global, yang tidak lagi didominasi masalah politik, pertahanan-keamanan dan militer, melainkan masalah-masalah kemanusiaan. Meskipun beragam fungsi diplomasi saat ini sudah dapat digantikan oleh komputer, tetapi fungsi perwakilan (Representasi, sebagai tanda kedaulatan negara), negosiasi, perlindungan terhadap warga negara, dan membangun hubungan baik dengan negara penerima, tetap memerlukan komunikasi tatap muka juga personal. Untuk mengantisipasi, maka diperlukan berbagai penyesuaian gaya serta media berdiplomasi. Sebagai contoh, jika sasaran diplomasi publik negara pengirim adalah kelompok usia muda, maka aktor, cara, dan media komunikasi perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi di negara penerima. Perubahan pola pikir dan kemampuan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi juga sangat memengaruhi keberhasilan diplomasi “Zaman Now”.