BCIS, Pertajam Kemampuan Analisis dan Daya Kritis Mahasiswa

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) senantiasa berupaya untuk melakukan inovasi secara berkelanjutan dalam memajukan pengembangan keilmuan. Inovasi ini tidak melulu dilakukan dalam skala besar namun juga bisa dimulai dari hal-hal kecil. Di sinilah Bandung Conference for International Relations’ Scholars (BCIS) menjadi instrumen HI Unpar, yang direpresentasikan salah satu organisasi internal di bawah Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HMPSIHI) Unpar, Kelompok Studi Mahasiswa Pengkaji Masalah Internasional (KSMPMI).

KSMPMI bertujuan untuk mengembangkan sisi penelitian dan pendidikan dalam bidang kajian hubungan internasional, dalam hal ini di lingkup Kota Bandung.

BCIS perdana diadakan pada 2017 dengan mengusung tema “Indonesia Among Great Powers: The Battle of Power in the South China Sea”. Tema tersebut diambil menyesuaikan keadaan internasional yang memang tengah hangat membahas tentang masalah Laut Cina Selatan. Beberapa pembicara yang hadir saat itu, termasuk dosen Unpar Adrianus Harsawaskita. Selain seminar dan pemaparan karya ilmiah, BCIS tahun 2017 juga menghadirkan pengalaman yang interaktif seperti diskusi panel yang terdiri dari 6 topik.

Pilar pendidikan diwujudkan dengan adanya coaching clinic dari mantan Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, Dra Artauli RMP Tobing MA terkait policy brief. Hal ini tentunya sangat penting untuk mahasiswa HI yang ingin meniti karir di bidang pemerintahan atau menjadi peneliti.

BCIS 2018

Pada 5 Mei 2018Prodi HI Unpar dan HMPSIHI menyelenggarakan Konferensi BCIS 2018 bertema World (Dis)Order: Arising Uncertainty in International Order”, yang kini menjadi bagian dari program Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) Bandung, atau dikenal sebagai The Bandung Circle.

Para peserta berasal dari berbagai universitas yang memiliki program studi HI, khususnya di Kota Bandung. Sejumlah universitas yang berpartisipasi yakni Unpas, Unikom, Unpad, serta Unsoed Purwokerto. BCIS diselenggarakan dalam empat format, yaitu paparan para pakar, presentasi, diskusi panel, dan simulasi.

Pakar bidang Hubungan Internasional yang menjadi pembicara dalam BCIS tahun ini di antaranya Sukawarsini Djelantik dan Yulius Purwadi Hermawan (Unpar), Teuku Rezasyah dan Viani Puspita Sari (Unpad), serta Andrew Mantong (UI).

Diskusi dalam konferensi membahas berbagai topik terkait pergeseran tatanan dunia pasca-perang dingin, termasuk mempertanyakan peran Amerika Serikat (AS) dalam politik global.

Posisi sebagai negara adidaya yang dipegang oleh AS selama beberapa dekade perang dingin semakin melemah seiring dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru dunia. Pergeseran tatanan dunia semasa perang dingin lebih difokuskan pada penguatan pengaruh ideologi, politik dan militer, sehingga memunculkan istilah geopolitik.

Tatanan dewasa ini berubah seiring dinamika global, termasuk digitalisasi pada era informasi. Sukawarsini merumuskan pergeseran tersebut dalam presentasinya yang berjudul: “Geo-Ekonomi sebagai Tatanan Dunia Baru”.

Tata dunia baru saat ini ditandai dengan aktivitas-aktivitas ekonomi yang lebih signifikan dibandingkan dengan perlombaan senjata atau peningkatan kapasitas dan kapabilitas militer. Dalam konteks tersebut, kemunculan Tiongkok sebagai kekuatan dunia baru perlu menjadi perhatian khusus. Semangat para peserta untuk memahami fenomena global dan hubungan internasional tampak dari kuantitas dan kualitas pertanyaan yang dikemukakan selama sesi diskusi.

Acara diakhiri dengan simulasi negosiasi antarnegara. Mengusung tema “International Migration”, panitia memberikan simulasi, yaitu para peserta menjadi delegasi negara-negara Uni Eropa. Dalam simulasi tersebut, peserta secara kolektif memecahkan masalah imigran dan pencari suaka di Eropa.

Keseruan dan intensitas acara tergambar jelas dengan aktifnya peserta untuk mencoba mencari resolusi yang menguntungkan semua pihak. Dalam simulasi ini partisipan juga menerapkan perspektif dan konsep yang mereka dapat dari awal pemaparan materi.

Diharapkan, kegiatan akademis serupa dapat secara kontinyu diselenggarakan, terutama untuk mempertajam kemampuan analisis dan daya kritis mahasiswa.

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Selasa, 22 Mei 2018)