Studi Ekskursi TU Dortmund dan FISIP Unpar 2019

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) kembali bekerjasama dengan Technical University of Dortmund (TU Dortmund), Jerman. Kerjasama antara Unpar dan TU Dortmund sudah berlangsung cukup lama, ditambah dengan adanya program pertukaran pelajar antara kedua universitas.

Pada Juli 2019, sejumlah pengajar serta mahasiswa dari TU Dortmund mengunjungi Unpar dalam rangka Studi Ekskursi yang berlangsung selama satu minggu. Topik yang dibicarakan pada tahun ini adalah tentang toleransi dan keberagaman di Indonesia. Dalam Studi Ekskursi ini, para peserta mendapatkan banyak pembelajaran mengenai kebudayaan, toleransi, pluralisme, serta tentang kondisi demokrasi di Indonesia.

Pembicara pada sesi seminar yang diadakan Rabu (3/7) adalah Dr. I Nyoman Sudira (Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional serta Kepala Program Magister Hubungan Internasional Pascasarjana Unpar) yang membicarakan toleransi yang ada di Bali dan Ps. Sam Hartanto yang berbicara dari sudut pandang Kristiani untuk melihat dari berbagai sudut pandang bagaimana kehidupan keberagaman di Indonesia.

Dalam seminarnya yang berjudul “Tolerance Practices in Post-Violence Area: Case from Village of Kuta after Bali Bombing”, Nyoman menjelaskan bagaimana kondisi sosial dan ekonomi Bali yang berubah setelah tragedi bom Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan bagaimana Bali dapat menangani situasi tersebut. Dalam penelitiannya, Nyoman dapat menyimpulkan bahwa mempraktikan nilai toleransi yang didasarkan dari ajaran agama lokal, yaitu agama Hindu, merupakan salah satu caranya. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan oleh agama Hindu adalah antara lain seperti nilai karma, keseimbangan, nilai kebahagiaan, dan masih banyak lagi. Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mana masyarakat muslim bukanlah masyarakat yang mendominasi, maka dari itu toleransi antara masyarakat mayoritas Bali, yaitu masyarakat Hindu, dengan masyarakat yang beragama lain sangatlah dibutuhkan.

Sama seperti Nyoman, Ps. Sam Hartanto juga menekankan bahwa meskipun Indonesia berbeda-beda, dengan banyaknya etnis suku, budaya, dan agama, namun Indonesia memiliki beberapa kesamaan, salah satunya adalah Pancasila yang menjadi pilar berdirinya Indonesia, dengan semboyannya yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Selain mendapatkan seminar tentang toleransi dan keberagaman di Indonesia, guna mendalami kebudayaan Indonesia, para peserta berkesempatan mengunjungi Desa Selaawi di Garut. Disana para peserta melihat bagaimana kehidupan demokrasi di desa, serta mengenal kebudayaan di desa tersebut. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengunjungi Saung Angklung Udjo untuk melihat kebudayaan lokal, dan mengunjungi gedung DPR RI.