Bandung, 11 Juni 2026 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan bersama UNPAR Press menyelenggarakan kegiatan Peluncuran dan Bedah Buku “Media dalam Politik Global” pada Kamis, 11 Juni 2026, bertempat di Veritas Room 3501, UNPAR. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini juga menjadi bagian dari kuliah tamu mata kuliah Komunikasi Global dan Media, sehingga menghadirkan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami peran media dalam dinamika politik global kontemporer.
Buku “Media dalam Politik Global” dieditori oleh Prof. Sukawarsini Djelantik dan memuat kumpulan tulisan yang membahas hubungan antara media, kekuasaan, opini publik, budaya populer, diplomasi, hingga konflik internasional. Melalui buku ini, media tidak hanya dipahami sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki kemampuan membentuk persepsi, membingkai realitas, dan memengaruhi cara publik memahami peristiwa politik di tingkat nasional maupun global.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Sukawarsini Djelantik selaku editor buku, dengan Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Digital, sebagai penanggap. Diskusi dipandu oleh Yuliana Maria Mediatrix sebagai moderator. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan para penulis yang merupakan dosen HI Unpar dan beberapa alumni, yaitu Sapta Dwikardana, Ratih Indraswari, Meyta Saraswaty Putri, Rifki Khalfani, Electra Ainun, Chiquita Adji, dan Muhammad Adli.
Sebagai kuliah tamu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana isu-isu yang dipelajari dalam kelas Komunikasi Global dan Media hadir dalam praktik nyata. Pembahasan mengenai media tidak berhenti pada teori, tetapi dikaitkan dengan contoh konkret seperti kampanye politik digital, framing media internasional, budaya populer, jurnalisme warga, konflik Israel-Palestina, krisis politik Korea Selatan, hingga peran media global seperti CNN dalam membentuk perhatian publik internasional.
Dalam pemaparannya sebagai penanggap, Wahyu Dhyatmika menekankan bahwa ekosistem informasi abad ke-21 telah mengalami perubahan besar. Media tidak lagi hanya berfungsi sebagai saluran komunikasi antara negara dan publik, tetapi telah menjadi arena perebutan pengaruh. Dalam ruang digital, kontestasi politik tidak hanya berlangsung melalui pidato, diplomasi, atau kebijakan negara, tetapi juga melalui algoritma, botnet, manipulasi informasi, kampanye terkoordinasi, dan perang narasi.
Wahyu juga menyoroti fenomena Foreign Information Manipulation and Interference atau FIMI, yaitu praktik manipulasi informasi yang dapat dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara untuk mempengaruhi opini publik. Dalam paparannya, ia menunjukkan bagaimana manipulasi informasi dapat bekerja melalui pola tertentu: narasi dimunculkan dari sumber tertentu, diperkuat oleh algoritma, disebarkan melalui akun-akun terkoordinasi, lalu masuk ke percakapan publik hingga mempengaruhi persepsi masyarakat. Dengan kata lain, disinformasi tidak selalu bekerja secara kasar dan terang-terangan, sering kali ia hadir sebagai arus informasi yang tampak organik, padahal didorong oleh mekanisme yang terencana.
Namun, paparannya tidak berhenti pada sisi gelap media digital. Wahyu juga menekankan bahwa kekuatan sejati media tetap terletak pada jurnalisme etik, verifikasi, transparansi, dan keberanian investigatif. Manipulasi algoritmik dapat bekerja ketika mekanismenya tersembunyi, tetapi dapat dilemahkan ketika jejaringnya dibongkar, polanya dipetakan, dan aktor-aktornya diungkap. Dalam konteks ini, jurnalisme bukan hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga ruang publik agar tetap sehat dan demokratis.
Buku ini sendiri memuat sejumlah tema besar. Bagian pertama menyoroti hubungan antara media, politik, dan ekonomi dalam negeri, antara lain melalui kajian tentang perubahan citra Jokowi, peran Kantor Berita Antara dalam membangun citra Indonesia melalui industri dirgantara, serta penggunaan TikTok dalam kampanye Prabowo-Gibran pada Pemilihan Presiden Indonesia 2024.
Tema berikutnya membahas media, budaya populer, dan jurnalisme warga. Beberapa tulisan mengangkat peran Netflix dalam penyebaran budaya Korea melalui serial Squid Game, hubungan antara jurnalisme warga dan jurnalisme profesional dalam isu imigrasi di Jerman, serta representasi dan dampak budaya Afrika dalam film Black Panther di Amerika Serikat dan Inggris.
Buku ini juga memperluas pembahasan ke ranah media dan politik global, termasuk narasi politik dalam meme politik Rusia, demokrasi dan media sosial dalam krisis politik Korea Selatan, peran Twitter/X dan Facebook dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024, serta pengaruh platform X terhadap kehidupan ekonomi dan politik di Amerika Serikat. Melalui berbagai kajian tersebut, pembaca diajak memahami bahwa politik global hari ini tidak hanya bergerak melalui diplomasi, pidato resmi, atau kebijakan negara, tetapi juga melalui algoritma, tagar, meme, citra visual, dan narasi digital yang beredar di ruang publik.
Salah satu perhatian penting dalam buku ini adalah pemberitaan konflik internasional. Beberapa tulisan membahas bagaimana media global membingkai konflik Israel-Palestina, termasuk perbandingan pemberitaan The New York Times dan Al Jazeera, serta analisis pemberitaan CNN pasca serangan Hamas pada 2023/2024. Tema ini menunjukkan bahwa pilihan bahasa, sumber berita, sudut pandang, dan struktur pemberitaan dapat membentuk cara publik memahami konflik, korban, pelaku, serta legitimasi tindakan politik tertentu.
Selain itu, buku ini juga menyoroti efek CNN dalam politik global. Pembahasan mencakup peran CNN dalam pemberitaan latihan militer gabungan Korea Selatan-AS, konflik Israel-Palestina, serta kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam kasus pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur. Kajian-kajian tersebut memperlihatkan bahwa media internasional dapat mempengaruhi perhatian publik, tekanan politik, bahkan cara negara merumuskan respons terhadap isu global.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa, akademisi, dan peserta diskusi diajak untuk melihat media secara lebih kritis. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca media menjadi semakin penting. Publik tidak cukup hanya menerima informasi, tetapi juga perlu memahami bagaimana sebuah narasi dibangun, siapa aktor yang diuntungkan, sumber mana yang dipilih, serta kepentingan apa yang mungkin bekerja di balik sebuah pemberitaan.
Peluncuran dan bedah buku ini sekaligus menegaskan komitmen HI UNPAR dalam menghubungkan proses akademik dengan isu-isu global aktual. Melalui “Media dalam Politik Global”, UNPAR Press dan para penulis menghadirkan kontribusi bagi pengembangan kajian hubungan internasional, komunikasi politik, dan studi media.
Pada akhirnya, kegiatan Peluncuran dan Bedah Buku “Media dalam Politik Global” sekaligus Kuliah Tamu Komunikasi Global dan Media ini menunjukkan bahwa memahami politik global hari ini berarti juga memahami cara kerja media. Sebab di era digital, media bukan hanya menceritakan dunia, tetapi juga ikut membentuk bagaimana dunia dipahami. Selain itu, di tengah kebisingan algoritma, botnet, serta manipulasi informasi, jurnalisme yang etis dan berbasis verifikasi tetap menjadi salah satu benteng terpenting bagi ruang publik demokratis.






