Pandangan Dosen Program Studi Hubungan Internasional Terkait Rencana Pengiriman Pasukan Indonesia ke Gaza: Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D. 

Bandung, 13 Februari 2026 — Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D, diundang sebagai narasumber  dalam program berita Kompas Petang membahas rencana Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. Diskusi tersebut menyusul pemberitaan mengenai potensi pengiriman hingga 8.000 personel sebagai bagian dari upaya menciptakan stabilitas dan perdamaian di wilayah tersebut. 

Dalam wawancara tersebut, Yulius berpandangan bahwa ia menolak keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang digagas oleh Amerika Serikat. Menurutnya, penolakan ini juga diikuti oleh cukup banyak alasan dan sudah banyak alasan yang dijelaskan oleh para pakar dan diplomat senior. Namun, faktanya, perkembangan terakhir menunjukkan adanya rasionalisasi baru, yaitu partisipasi Indonesia dalam BoP dinilai sebagai satu-satunya opsi bagi Indonesia untuk turut membangun perdamaian di Palestina. Lebih lanjut, Yulius menjelaskan bahwa keputusan tersebut belum sepenuhnya rasional. Dalam wawancara tersebut, Yulius menjelaskan bahwa harapannya adalah dengan Indonesia tergabung dalam BoP, Indonesia harus bisa memahami situasi secara menyeluruh terlebih dahulu. Kekhawatirannya adalah jika terburu-buru, berpotensi menciptakan situasi yang justru berbahaya bagi Indonesia. 

Yulius juga menyampaikan bahwa meskipun telah dilakukan pendalaman dan ‘pemantapan’, pengiriman pasukan sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Ia mengusulkan bahwa sebagai negara yang memposisikan diri sebagai change maker, Indonesia perlu terlebih dahulu menyampaikan hasil pendalamannya dalam forum pertemuan dengan Amerika Serikat di Washington, sekaligus mendengarkan secara langsung ekspektasi terhadap Indonesia dalam BoP. Komitmen resmi pengiriman pasukan, menurutnya, baru dapat dinyatakan setelah proses tersebut dilalui. 

Selain itu, Yulius menegaskan bahwa tujuan mendukung martabat Palestina harus benar-benar dipertimbangkan secara mendalam. Ia mengigatkan bahwa Hamas telah secara tegas menolak segala bentuk pengawasan atau kehadiran pasukan asing yang dinilai sebagai foreign occupation, termasuk gagasan International Stabilization Force. Maka dari itu, Yulius mengingatkan agar Indonesia berhati-hati terhadap kemungkinan adanya kepentingan lain di balik inisiatif tersebut dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil tetap berorientasi pada kepentingan rakyat Palestina. 

Video wawancara dapat diakses melalui tautan ini.