Seminar Publik HI UNPAR: “World Minus One Moment?” Penjelasan Teoritis dan Implikasi bagi Indonesia

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan menyelenggarakan seminar publik bertajuk “World Minus One Moment? Penjelasan Teoritis dan Implikasi bagi Indonesia” pada Jumat, 13 Maret 2026 di Audio Visual Gedung 3 FISIP UNPAR. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB ini juga disiarkan melalui kanal YouTube Ngobrolin HI. Seminar menghadirkan tiga narasumber, yaitu Makmur Keliat, Penasihat Senior Laboratorium Indonesia 2045; Spica Alphanya Tutuhatunewa, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI; serta Adrianus Harsawaskita, dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan.

Dalam pemaparannya, Makmur Keliat menjelaskan bahwa dinamika politik global saat ini menunjukkan melemahnya multilateralisme dan meningkatnya kecenderungan unilateralisme, terutama melalui kebijakan negara besar yang semakin transaksional. Dalam menghadapi situasi tersebut, diplomasi dan kerja sama internasional (ekonomi dan keamanan) tetap menjadi instrumen kunci untuk menjaga stabilitas global.

Sementara itu, Spica Alphanya Tutuhatunewa menyoroti dunia yang semakin terfragmentasi secara geopolitik dan geoekonomi, di mana konflik di satu kawasan dapat berdampak luas pada stabilitas global, termasuk pada pasar energi dan pangan. Dalam konteks ini, Indonesia mendorong pendekatan Dynamic Resilience, yaitu kemampuan untuk memperkuat fondasi domestik sekaligus mendiversifikasi kemitraan internasional agar tetap mampu menjaga kepentingan nasional dan berkontribusi pada stabilitas global.

Di sisi lain, Adrianus Harsawaskita mengemukakan perspektif teoritis mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia melalui konsep Polyamorous Foreign Policy. Dalam dunia yang semakin multipolar, pendekatan ini menekankan kemampuan Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan berbagai mitra secara fleksibel tanpa terikat pada satu blok kekuatan tertentu. Dengan demikian, esensi kebijakan luar negeri “bebas aktif” dapat dimaknai sebagai kebebasan Indonesia untuk memilih dan membangun kemitraan strategis yang beragam demi menjaga relevansi dan kepentingan nasional.

Seminar ini memberikan ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami dinamika perubahan tatanan internasional serta posisi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Melalui berbagai perspektif yang disampaikan oleh para narasumber, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman akademik sekaligus mendorong refleksi kritis mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia di masa depan.