Menanggapi tulisan Philips Vermonte di Harian Kompas, Dosen Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Idil Syawfi, S.IP., M.Si. menilai bahwa situasi global saat ini menunjukkan semakin menguatnya karakter anarki dalam sistem internasional akibat eskalasi berbagai konflik geopolitik. Ia menekankan bahwa meskipun anarki merupakan kondisi yang disepakati dalam berbagai pendekatan Hubungan Internasional, perbedaan utama terletak pada bagaimana negara meresponnya. Dalam hal ini, Idil menyoroti bahwa kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump tidak sepenuhnya mencerminkan prinsip realisme, karena cenderung menciptakan instabilitas alih-alih menjaga tatanan yang menguntungkan hegemon.
Lebih lanjut, Idil berpandangan bahwa dalam sistem internasional yang semakin tidak pasti, negara-negara dengan kapasitas terbatas perlu mengedepankan pendekatan yang rasional dan pragmatis. Bagi Indonesia, hal ini berarti mengoptimalkan kebijakan bebas aktif secara fleksibel, memperkuat posisi strategis di tengah rivalitas kekuatan besar seperti AS dan China, serta membangun otonomi strategis melalui diversifikasi kerja sama. Maka dari itu, Idil menegaskan bahwa realisme tetap relevan bukan sebagai legitimasi kekacauan, melainkan sebagai kerangka berpikir untuk membaca realitas global secara objektif dan menjaga keberlangsungan kepentingan nasional.
Untuk membaca lebih lanjut dapat diakses melalui tautan berikut ini.


